Powered by Blogger.
Showing posts with label Suhut-Suhutan. Show all posts
Showing posts with label Suhut-Suhutan. Show all posts

1/30/2018

Masjid Kuno Batak yang Butuh Perhatian #BatakIslam #BerawaldariZakat #NUPeduliAsmat #ThankstoMuhammadiyah #JBMIPeduli #PMPSPeduli #PBIPeduli #Kerja3ersama

Salah satu contoh masjid tua di Nusantara
Masjid-masjid kuno sebenarnya bertebaran di tanah Batak atau setidaknya di wilayah-wilayah yang ditinggali oleh orang Batak. Itu mencakup seluruh Tapanuli (utara, selatan dan tengah), Bonapasogit di beberapa kabupaten sekitar Danau Toba dan lain sebagainya.

Barus, misalnya, dengah disyahkan sebagai titik nol masuknya Islam, dipastikan banyak Masjid di tempat tersebut namun sudah hilang jejaknya. Lokasinya yang strategis, membuat Barus rebutan berbagai kekuatan, sehingga sering terjadi bumi hangus dari pihak yang bertikai.

Terakhir oleh pihak warga sendiri saat mengusir penjajahan Belanda.

Walapun Islam sudah masuk pada awal, tidak banyak yang tersisa dari peninggalan masjid di era ini. Sebutlah ini Era Awal. Karena tidak mungkin ada komunitas Islam atau pedagang Muslim tapi tak ada masjidnya.

Pada Era Kedua, bila bisa disebut begitu, ditandai dengan era Kebangkitan Nusantara. Yaitu kira-kita tahun 1200-1800an.

Pada era ini, manuskrip paling lama (sebelum ditemukan bukti lain) yang menyatakan secara khusus adanya Masjid di Tanah Batak adalah Sejarah Raja-Raja Barus. Yakni soal pengembaraan Ibrahimsyah ke Bakkara dengan seribu pengikutnya. Sebelum meninggalkan Bakkara menuju Barus, terlebih dahulu dia mendirikan Masjid yang kemudian menjadi tempat Sisingamangaraja.

Makanya banyak yang menilai bahwa Balepasogit merupakan asal kata Balemasojid atau bangunan masjid, yang sampai sekarang tradisinya masih menghadap ke barat alias kiblat.

Pada Era Ketiga, atau era Kebangkitan Nasional dari awal tahun 1900-an sampai sekarang.

Pada era ini sudah banyak sejarah masjid yang diketahui. Khususnya yang dibangun pada era itu. Dan tidak tertutup kemungkinan sebelumnya sudah ada di daerah tertentu.

Untuk diketahui, masjid di tanah Batak ada bebrapa jenis. Yang paling banyak adalah Masjid yang berfungsi sebagai musholla, biasanya di persinggahan atau di pemandian.

Bentuknya biasanya dari batu yang agak datar dan biasanya ada tanda untuk menyebut batas-batas sucinya.

Masjid keluarga atau huta (masjid desa). Karena sebuah huta biasanya dihuni satu keluarga besar, maka sering disebut sebagai masjid keluarga.

Bisanya ini dibangun keluarga pedagang, sufi atau guru.

Jenis berikutnya dalah Masjid Raya yang bisanya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh umat.

Penyebab punahnya masjid-masjid kuno di tanah Batak adalah:

1. Tidak ada kaderisasi ulama pendiri.

Misalnya pendirinya merupakan tokoh setempat, tapi profesinya sebagao pedagang tidak diteruskan oleh anak dan keturunanya. Misalnya, karena menjadi pegawai negeri yang berpindah-pindah dll.

2. Keturunannya murtad

Misalnya pendiri masjdi atau pemberi wakaf masjid murtad. Biasanya tak lagi mengurus masjid dan dibiarkan sampai busuk. (karena terbuat dari rumbia atau kayu)

Tapi ini tidak selalu apa yang terjadi. Ada juga keturunan tersebut menyerahkan kepada umat Islam karena ketika kakeknya mewakafkannya dalam posisi sebagai Muslim.

3. Konflik keluarga/pengurus

Beriku adalah beberapa masjid kuno atau tua di tanah Batak:

1. Masjid Ibrahimsyah Sitompul (sumber)



2. Masjid Alhadhonah, Balige (baca)



Suatu hari, tanggal 3 maret 1910 seorang pedagang, pemeluk agama Islam bernama Djahoeat Napitupulu (Ayah kandung Mara Qodim Napitupulu), datang ke Balige. Beliau berasal dari Sibolga. Kemudian, bersama tokoh Islam lainnya, mengembangkan syiar agama di kota yang kental nuansa budaya adat Batak dan filosophy dalihan na tolu.
Diduga, orang pertama yang membawa ajaran agama Islam ke Tobasa, adalah Lobe Sangajo Napitupulu dari Balige, dan Lobe Leman Tampubolon dari Sibala Hotang. Keduanya merupakan perintis dan pembawa ajaran Islam di kota ini, sembari menjalankan usahanya, sebagai pedagang pada masa itu.
Orang yang mula-mula masuk menjadi pemeluk agama Islam, yaitu Thomas gelar Djabadullah Napitupulu, Mandjo gelar Djalendo Napitupulu dan Lobe Taat Napitupulu. Kemudian masuk jugalah Johannes Nainggolan (H. M. Nainggolan), menjadi Imam di masjid Al Hadhonah. Asalnya dari Sosor Tangga Siahaan Balige.
Setelah itu, Bapak Lobe Tinggi Pardede (H. A. Halim Pardede) masuk memeluk agama Islam. Kemudian, diberangkatkan mengaji ke Padang Sidempuan selama 3 tahun. Selanjutnya, ajaran agama ini berkembang di Kabupaten Simalungun, tepatnya di Kecamatan Parapat.
Melihat perkembangan ajaran agama Islam yang cukup pesat saat itu, masuklah Djaumar Simanjuntak (H.Umar). Beliau ini dulunya berasal dari keluarga datu-datu. Seterusnya, mereka mengajak Dja Solim Simanjuntak (H. Solim), Dja Isak gelar guru Lempang Tampubolon, Dja Padang Pangaribuan dan Dja Sudin Hutagaol dari Mejan. Beliau-beliau inilah yang kemudian menjadi muballigh dan mendirikan masjid yang ada di Mejan sekarang. Lalu, masuklah H. Selamat dari Simanjuntak Hutabulu.
Begitulah, Agama Islam terus menerus diperjuangkan. Hingga mencapai 150 rumah tangga. Meliputi Mejan, Simarmar, Parsuratan, Simanjuntak, Hinalang, Tambunan dan Kota Balige sekitarnya. Atas upaya yang dilakukan Alm. Lobe Leman Tampubolon, didapatlah izin dari Residen Tapanuli tertanggal 2 Januari 1918, untuk mendirikan masjid. Sayang, beliau tidak sempat membangunnya, karena dipanggil Allah swt, tanggal 22-3-1922.
Perjuangan untuk mendirikan masjid tetap diteruskan. Yaitu, dengan terbentuknya suatu organisasi Komite Masjid Balige, tahun 1923. Anggotanya yaitu, H. A. Manap (sebagai Presiden), H. A.H. Pardede (sebagai Vice Presiden), H. M. Nawawi Nainggolan (sebagai Sekretaris dan Kasir), H.Selamat dan H.Umar (sebagai Anggota)
Alm. Mara Qodim Napitupulu (gelar Ompu si Rani Napitupulu), dulu sering bertindak sebagai Imam, ataupun khotib di Masjid ini. Bersama beberapa tokoh dan sesepuh lainnya, mengumandangkan syiar agama. Tentu, dengan keterbatasan serta kemampuan yang mereka miliki. Pesan “amar ma'ruf nahin munkar” disampaikan, mengajak berbuat kebajikan, dengan senantiasa menjauhi kezholiman.
Diperkirakan tahun 1890, atau kemungkinan beberapa tahun sebelumnya, telah berdiri Musholah di Balige. Tempat beribadah generasi Lobe Sangajo Napitupulu. Selanjutnya, beliau meminta kepada ayahandanya, Raja Marsait Bodil sebidang tanah berukuran 15x20m2 untuk didirikan Musholah.
Dari sinilah kemudian, bangunan musholah berkembang menjadi Masjid. Waktu itu, panitianya Pak Untung (bertugas sebagai kepala cabang BNI Balige). Sekretaris Ustz. Arso, SH (sekarang Hakim Pengadilan Agama Medan). Sementara, Bendahara adalah H.A. Harahap. Berkisar tahun1964 Ustz. Syamsudin Simangunsong, menjadi Imam tetap di Masjid Al Hadonah yang merupakan masjid tertua di kota ini. Mereka adalah penggagas, sekaligus pelaksana ulet dalam membangun.

3. Masjid Lae Toras (sumber)

Masjid Lae Toras dalam latar belakang milik keluarga setempat
Terletak di Kompleks Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Cabang Lae Toras, Tarabintang.

4. Mushalla Guru Katib Sibarani (sumber)


5. Masjid Oppu Bindu Hutagalung (1820)


6. Masjid Siniang



Masjid ini baru dipugar tahun 1990-an. Sebelumnya adalah rumah yang secara periodik dilakukan majelis taklim atau pengajian keluarga Muslim di Siniang Pakkat.


Cara melestarikan masjid-masjid kuno

1. Perlu ada upaya untuk memugar tanpa mengubah bentuk asli, dengan seijin pewakaf atau pengurus masjid.

2. Ada baiknya setiap tahun diadakah perayaan bertepatan dengan hari besar untuk memakmurkan kembali masjid secara keliling dan periodik

3. Dll yang dianggap perlu
Published: By: Admin2 - 1/30/2018

6/15/2017

Mengenal #Tokoh-Tokoh Muda #Pakkat, Calon #Pemimpin #Bangsa di Masa Depan

Pakkat merupakan kecamatan kecil yang masyarakatnya hidup dalam keberkahan dan mempunyai visi dan pandangan yang membangun untuk bangsa dan negara.

Puluhan tokoh nasional, dari berbagai latar belakang telah lahir dari daerah yang dilalui jalur transportasi dari Dolok Sanggul ke Barus ini.

Di antaranya sebagai tokoh masyarakat, ilmuwan, akademisi, pejabat, petinggi TNI/Polri dan lain sebagainya.

Mereka ada yang berdomisili di Pulau Jawa, Sumatera bahkan di luar negeri.

Tapi, ternyata di Pakkat sendiri banyak tokoh-tokoh muda yang sedang tumbuh dan berpotensi menjadi pemimpin bangsa di masa depan, baik untuk skala lokal maupun nasional.

Tanpa mengurangi hormat penulis kepada beberapa sosok yang tak dapat kami sebutkan satu per satu, kiranya tulisan ini dapat menjadi doa bagi mereka agar terus berkarya dan menunjukkan prestasi terbaik untuk masyarakat.

Di antara tokoh muda yang mengayomi masyarakat adalah Ust Mas Ismail Simanjuntak atau dikenal akrab dengan bang Mas.

Beliau adalah murid dari KH Ibrahim Lubis semasa pengajian dan senior bagi kalangan muda setempat. Ust Ibrahim merupakan Ketua MUI Pakkat yang merupakan lulusan pesantren tertua di Sumatera Utara, Musthafawiyah Purba Baru.

Selain Ust. Lubis, lulusan lain pesantren ini yang berdomisili di Pakkat adalah alm. Mahmun Syarif Marbun, adinda dari Buya Ali Akbar Marbun, pengasuh Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Medan dan cabangnya di Lae Toras, Tarabintang, Humbang Hasundutan. Keduanya juga lulusan Purba Baru.

Mas Ismail semasa kecil merupakan murid pengajian yang disukai teman-temannya. Walau lebih senior dari rekannya H. Ahmad Jubeir, keduanya sering tampil dalam berbagai kompetisi mengaji, tilawah dan lain sebagainya di berbagai ajang tingkat kecamatan dan kabupaten, saat itu.

Kini Ust Mas, begitu panggilannya, mengabdikan diri pada masyarakat Pakkat sekitarnya dan sering menggantikan posisi Ust Lubis bila berhalangan dalam berbagai agenda sosial yang dibutuhkan.

Berikutnya adalah H. Ahmad Jubeir Marbun. Beliau pernah kuliah di India usai mengajar di Pesantren Al Kautsar Al Akbar cabang Lae Toras, Humbang Hasundutan.

Selama kuliah di India, dia menyempatkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat sebagai petugas haji melalui tenaga musiman Kementerian Agama RI di Jeddah, Arab Saudi.

Dia kuliah di Universitas Bangalore, melalui beasiswa ICCR (Indian Council for Cultural Relations). Di kampus yang terletak di selatan India tersebut, jumlah mahasiswa Indonesia sangat sedikit sehingga memaksanya bergaul hampir saban hari dengan mahasiswa asing dari AS, Asia dan Afrika.

Kembali ke Indonesia, dia pernah dihadapkan kepada dua pilihan yang pelik. Saat dia sedang kampanye menjadi caleg untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat Sumut dari Partai PPP, dia diterima sebagai CPNS di Humbang Hasundutan sebagai guru.

Jiwa keikhlasan dan tekad untuk mengabdi mendorongnya memilih profesi guru, meneruskan pengabdiannya sebagai guru di Pesantren Lae Toras, hanya saja kini di sekolah pemerintah. Diapun mengundurkan diri dari kampanye untuk memenuhi aturan yang berlaku.

Dengan mengajar, dia bisa mengabdi dan mengamalkan ilmunya yang akan sangat berguna baginya kelak di akhirat; sebagai amal jariyah baginya dan bagi keluarganya, khususnya kepada ayahandanya Jureman Marbun/Op. Diyanah/Sultan Marbun.

Dari pengalamannya mengajar di dua tempat, berbagai alumni dan lulusan pernah dia didik, mereka yang kelak menjadi bibit-bibit unggul generasi bangsa. (lihat profil lengkapnya)

Tokoh muda lainnya adalah Ust. Muslih Lubis yang merupakan putra dari KH.  Ibrahim Lubis. Sebagaimana ayahandanya, dia juga merupakan lulusan berikutnya dari Purba Baru, setelah generasi pendahulu.

"Doakan, anak saya dapat menggantikan saya mengabdi kepada masyarakat," kata Ust Lubis senior baru-baru ini kepada penulis.

Kini Ust Ulli, nama panggilannya, yang juga lulusan perguruan tinggi di Yogyakarta, membantu ayahanda dalam berbagai kegiatan, mulai dari pelaksanaan manasik haji, pengelolaan madrasah, manajemen masjid dan berbagai kegiatan mulia lainnya.

Semoga kelak Ust Ulli dapat terus berkarya sehingga masyarakat akan mendapat berkah dengan mempunyai pemimpin-pemimpin yang dihormati di masa depan.

Tokoh muda lain yang layak disebut adalah H. Yusuf Marbun, MA, sosok low profile dan tawadhu yang kini berdomisili di Pakkat.

Lulusan Pesantren Al Kautsar Al Akbar Medan, Aligarh Muslim University dan pascasarjana di Jamia Millia Islamia University, New Delhi ini, dua jenjang terakhir dari jalur ICCR, merupakan pribadi yang cinta dan mengabdi kepada orang tua.

Demi membahagiakan orang tua, apapun akan dilakukan termasuk menolak berbagai tawaran kerja di Yordania, Malaysia, kesempatan menjadi Dosen di berbagai universitas dalam negeri dan lain sebagainya.

Walaupun kini tak langsung terjun ke berbagai bidang masyarakat, tapi riwayatnya telah menjadi inspirasi bagi anak-anak usia sekolah untuk rajin belajar.

Pengelola Yayasan Mahmun Syarif Marbun ini, juga siap setiap saat dimintai pendapatnya membangun media, khususnya www.tobapos.com.

Selama di India, tercatat dia sudah dua kali menjadi petugas haji Kementerian Agama RI dari tenaga musiman di Makkah Arab Saudi dan beberapa pengalaman kerja part-time semasa kuliah.

Dia merupakan adik dari H. Jukifli Marbun, MA, yang pernah menjadi Ketua periode ketiga Punguan Muslim Pakkat di Jakarta dan Sekitarnya (PMPS), sebuah paguyuban yang didirikan oleh alm. Kombes Kasirun Sihotang, dan juga pernah menjadi Anggota Dewan Penasihat Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) pada periode kepemimpinan DR. Marhaban Sigalingging.

Bang Yusuf, begitu panggilannya, juga mempunyai adik Julkarnaen Marbun dan Nurjuriyatussifah Marbun, MA, yang kini menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah, Pesantren Al Kautsar Al Akbar di Medan.

Selain tokoh-tokoh muda di atas, sebenarnya Pakkat dipenuhi oleh generasi-generasi terbaik bangsa. Mereka yang akan mewarnai dan ikut berpartisipasi membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta di masa depan.

Mari berdoa untuk mereka dan tokoh-tokoh lain yang tak dapat kami sebut satu per satu, yang berdomisili di Pakkat maupun di perantauan, yang kelahiran Pakkat atau kelahiran luar tapi menetap di Pakkat, untuk tetap berkarya kepada masyarakat, dijaga dan diberkahi oleh Allah SWT dengan rezeki kesehatan dan karunia yang melimpah.

اللهم إنا نسألك خير المسألة ، وخير الدعاء ، وخير النجاح  ، وخير العمل ، وخير الثواب ، وخير الحياة ، وخير الممات ، وثبتنا ، وثقل موازيننا ، وحقق إيماننا ، وارفع درجاتنا ، وتقبل صلاتنا ، واغفر خطيئاتنا ، ونسألك الدرجات العلى من الجنة .اللهم إنا نسألك فواتح الخير ، وخواتمه ، وجوامعه وأوله وآخره ، وظاهره ، وباطنه والدرجات العلى من الجنة ، آمين .اللهم إنا نسألك خير ما نأتي ، وخير ما نفعل ، وخير ما نعمل ، وخير ما بطن ، وخير ما ظهر ، والدرجات العلى من الجنة ، آمين .

اللهم إنا نسألك أن ترفع ذكرنا ، وتضع وزرنا ، وتصلح أمرنا ، وتطهر قلوبنا ، وتحصن فروجنا ، وتنور لنا قلوبنا ، وتغفر لنا ذنوبنا ، ونسألك الدرجات العلى من الجنة ، آمين .اللهم إنا نسألك أن تبارك لنا في أنفسنا ، وفي أسماعنا ، وفي أبصارنا ، وفي أرواحنا ، وفي خُلقنا ، وفي خَلقنا ، وفي أهلينا ، وفي محيانا ، وفي مماتنا ، وفي أعمالنا ، فتقبل حسناتنا ، ونسألك الدرجات العلى من الجنة ، آمين 


Semoga kelak, Pakkat dan tokoh-tokoh yang lahir dari bumi-nya serta yang akan lahir di tempat yang subur ini, tetap dapat berkontribusi dengan prestasi terbaiknya untuk bangsa dan negara yang tercinta.

Begitu juga doa kepada Allah SWT agar selalu merahmati guru-guru penulis, yang masih hidup atau yang sudah wafat, khususnya alm ayahanda Jureman Marbun yang dikenal dengan nama Mahmun Syarif Marbun semasa studi di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Mandailing  Natal, Tuan Guru Syeikh Ali Akbar Marbun, dikenal dengan sebutan Buya Ali Akbar Marbun, kini Rais Syuriah PBNU, Ketua Dewan Ulama Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) dan pengasuh Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar.

Juga kepada guru KH. Ibrahim Lubis, Ketua MUI Pakkat, guru-guru di sekolah, pesantren, guru-guru di India (baik dalam ilmu hadits maupun lainnya), Yordania (sastra arab) dan lain sebagainya yang tak dapat kami sebut satu persatu.
Published: By: Admin2 - 6/15/2017

11/24/2014

Kuba Bangun Masjid

Sebuah tanah telah dialokasikan untuk membangun sebuah masjid di Havana, Kuba, dimana sebelumnya dikabarkan bahwa pelaut Muslim lah yang pertama kali temukan tanah Amerika bukan Christopher Columbus.

"Ide ini pertama kali keluar saat kunjungan proyek dan bilateral," ujar Mustafa Tutkun, Wakil General Manager Direktorat Urusan Agama Turki, kepada harian Vatan, seperti dilansir Islam Online, Jumat (21/11).

More
Published: By: Redaksi - 11/24/2014

Sejarah Benua Amerika

Begitu banyak bukti bahwa bangsa Indian sudah memeluk agama Islam. Misalnya, beberapa tulisan cherokee abad ke-7 terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan tulisan “Muhammad” dalam bahasa Arab.

More
Published: By: Redaksi - 11/24/2014

11/23/2014

[Bedah Buku] Mengakrabi Parmalim

Buku Agama Malim yang ditulis Prof Dr. Ibrahim Gultom ini, mulanya adalah sebuah disertasi beliau untuk meraih gelar Ph. D di Universiti Kebangsaan Malayasia (UKM). Disertasi itu, diakui, ia kerjakan selama 2 tahun di daerah Batak Toba, khususnya di pusat Agama Malim yang berkedudukan di Hutatinggi, Laguboti.

Buku ini dimulai dengan penjelasan teknis penelitian. Kemudian berturut-turut dibahas Tentang Sekilas Suku Bangsa Batak, Lahirnya Agama Malim, Kosmologi Agama Malim, Sistem Kepercayaan Agama Malim, Ajaran dan Sumber Hukum Agama Malim, Ritual Agama Malim, Struktur Organisasi dan Sumber Keuangan Agama Malim serta Analisis dan Kesimpulan berikut dengan tabel dan glosarium di akhir buku.



More
Published: By: Redaksi - 11/23/2014

Hukum Belajar Ilmu Laduni

Bahwa semua ilmu yang dimiliki makhluq hidup di bumi dan di langit adalah ajaran dari Allah swt, termasuk ilmu yang dimiliki oleh manusia.

Dengan demikian, kita katakan bahwa semua ilmu yang dimiliki oleh manusia adalah Ilmu Laduni, yaitu ilmu yang berasal dari Allah swt . Timbul suatu pertanyaan, apa sebenarnya hakikat ilmu laduni menurut pandangan Islam ? apakah seperti yang sering di pahami orang-orang sufi selama ini atau ada arti lain yang lebih benar.

More
Published: By: Redaksi - 11/23/2014

Mengenal Ilmu Laduni

Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam.

Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.

More
Published: By: Redaksi - 11/23/2014

Belajar dari Kisah Sufi Aththar An-Nisaburi

Kisah-kisah sufistik berikut ini, menurut Idries Shah, berasal dari Aththar An-Nisaburi. Ajaran-ajaran Aththar An-Nisaburi banyak disertai gambaran-gambaran biografi, fabel, pepatah dan apologi, yang tidak hanya mengandung ajaran moral tetapi kiasan-kiasan yang menggambarkan tentang tahap-tahap khusus perkembangan manusia.

Aththar menggunakan tema suatu ‘perjalanan’ atau ‘pencarian’ sebagai analogi dari tahap-tahap keberhasilan jiwa manusia dalam mencari kesempurnaan.

More
Published: By: Redaksi - 11/23/2014

Surah Al-Ikhlas

Dokma (wahai Muhammad): (Tuhanku) ima Allah na Esa: (1) Allah na gabe tumpuan ni sude makhluk (naeng mangido sude lomo ni rohana): (2) Imana dang manubuhon, jala dan ditubuhon; (3) Jala dang adong na tudos tu imana..
Published: By: Redaksi - 11/23/2014
 

Ads