Serangan Israel terhadap pangkalan militer Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah, pada 18 Agustus 2026 membuka kembali perdebatan mengenai pola penggunaan kekuatan sepihak di Timur Tengah. Delapan serangan udara menghantam landasan dan fasilitas penyimpanan di pangkalan tersebut. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, tetapi fasilitas mengalami kerusakan.
Serangan tersebut menjadi penting bukan hanya karena sasaran berada di wilayah Suriah, tetapi juga karena muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel, Suriah dan Turki. Israel menyatakan tindakannya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kemungkinan kehadiran militer Turki di Abu al-Duhur.
Pemerintah Israel menilai perkembangan tersebut dapat mengubah keseimbangan keamanan di Suriah. Menurut Israel, kehadiran militer Turki berpotensi menciptakan situasi baru yang dianggap mengancam kepentingannya. Namun Turki membantah tuduhan tersebut dan menyatakan klaim Israel tidak berdasar.
Pemerintah Suriah juga membantah bahwa Abu al-Duhur akan dijadikan pangkalan militer permanen Turki. Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani bahkan mengatakan bahwa Damaskus sebelumnya telah menjelaskan kepada Israel bahwa pangkalan tersebut tetap berada di bawah kedaulatan Suriah.
Di sinilah muncul persoalan politik yang lebih besar. Israel menggunakan pertimbangan ancaman yang dianggap sedang berkembang untuk melakukan serangan sebelum ancaman tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Pola seperti ini sering disebut sebagai pendekatan preventif atau pre-emptive dalam perdebatan strategis.
Fenomena tersebut memiliki kemiripan tertentu dengan tindakan kelompok Houthi di Yaman ketika menyerang sasaran Saudi Arabia. Pada Agustus 2026, Houthi meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap wilayah serta kepentingan Saudi setelah meningkatnya kembali permusuhan di Yaman.
Houthi juga menggunakan bahasa keamanan dan pembalasan untuk membenarkan tindakannya. Dalam konflik yang telah berlangsung sejak 2014, kelompok tersebut berhadapan dengan pemerintah Yaman dan koalisi yang dipimpin Saudi. Konflik itu sempat mereda setelah gencatan senjata pada 2022, tetapi ketegangan kembali meningkat pada 2026.
Dengan demikian, terdapat sebuah pola yang menarik. Israel mengatakan dirinya bertindak untuk mencegah ancaman strategis yang mungkin muncul dari perkembangan militer di Suriah, sementara Houthi mengatakan serangannya merupakan bagian dari perjuangan menghadapi Saudi dan respons terhadap tekanan militer terhadap mereka.
Namun kedua kasus tersebut tidak dapat disamakan sepenuhnya. Konflik Houthi-Saudi mempunyai sejarah perang yang panjang dan melibatkan perang saudara Yaman serta intervensi koalisi regional. Sementara serangan Abu al-Duhur merupakan tindakan militer Israel terhadap fasilitas pemerintah Suriah dalam situasi hubungan yang sedang berusaha diarahkan menuju pengaturan keamanan baru.
Perbedaan itu penting karena menentukan bagaimana setiap tindakan dipahami dalam politik internasional. Serangan Houthi terhadap Saudi berada dalam konteks konflik bersenjata yang telah berlangsung lama, sedangkan Israel menghadapi kritik karena menggunakan kekuatan terhadap Suriah berdasarkan ancaman yang menurut Damaskus dan Ankara belum terbukti.
Menariknya, Saudi Arabia sendiri termasuk negara yang mengecam serangan Israel terhadap Abu al-Duhur. Riyadh menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah dan hukum internasional.
Situasi itu memperlihatkan betapa rumitnya politik Timur Tengah. Saudi dapat menjadi lawan Houthi sekaligus mengecam tindakan Israel terhadap negara Arab lain. Artinya, hubungan antarnegara tidak selalu terbagi sederhana antara kelompok “pro-Israel” dan “anti-Israel”.
Kepentingan nasional menjadi faktor yang lebih menentukan. Saudi memiliki kepentingan untuk menghentikan ancaman Houthi di Yaman, tetapi pada saat yang sama tidak menginginkan munculnya pola serangan sepihak yang dapat mengganggu stabilitas kawasan dan kedaulatan negara Arab.
Turki mempunyai kepentingan yang berbeda. Ankara mendukung pemerintahan Suriah pasca-Bashar al-Assad dan berusaha mempertahankan pengaruhnya di negara tersebut. Karena itu, serangan Israel terhadap Abu al-Duhur juga dibaca sebagai pesan strategis kepada Turki agar tidak memperluas kehadiran militernya di Suriah.
Amerika Serikat berada dalam posisi yang semakin sulit. Utusan khusus AS Tom Barrack mengkritik serangan Israel dan menyebutnya sebagai eskalasi yang tidak perlu. Ia juga memperingatkan bahwa tindakan semacam itu dapat menyeret Turki ke dalam konflik yang lebih luas dengan Israel.
Fenomena ini menunjukkan perubahan penting dalam peta keamanan Timur Tengah. Israel sebelumnya sangat memusatkan perhatian pada Iran dan jaringan kelompok yang didukung Teheran di Suriah. Setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad, perhatian Israel mulai bergeser kepada konfigurasi kekuatan baru yang melibatkan Turki dan pemerintahan Suriah yang baru.
Pada sisi lain, Houthi menjadi contoh bagaimana aktor non-negara dapat menggunakan rudal dan drone untuk memberikan tekanan terhadap negara yang memiliki kemampuan militer jauh lebih besar. Serangan tersebut tidak selalu bertujuan memenangkan perang secara konvensional, tetapi menciptakan biaya politik, ekonomi dan keamanan bagi lawan.
Israel menggunakan keunggulan udara untuk menghancurkan fasilitas sebelum kemampuan lawan berkembang. Houthi menggunakan rudal dan drone untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung lawan. Keduanya menunjukkan bahwa kekuatan militer di Timur Tengah tidak hanya digunakan untuk memenangkan pertempuran, tetapi juga untuk membentuk perilaku politik lawan.
Karena itu, perdebatan mengenai Israel dan Houthi tidak cukup hanya dilihat dari pertanyaan siapa yang menyerang lebih dahulu. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah alasan keamanan yang digunakan untuk membenarkan serangan tersebut benar-benar memenuhi prinsip kebutuhan, ancaman yang nyata dan proporsionalitas.
Jika setiap aktor merasa berhak menyerang negara atau kelompok lain berdasarkan ancaman yang diperkirakan akan muncul, kawasan Timur Tengah dapat masuk ke dalam siklus serangan preventif. Israel dapat menyerang karena merasa terancam oleh Turki atau Suriah, Houthi dapat menyerang Saudi karena merasa terancam oleh Riyadh, dan Saudi kemudian dapat membalas dengan alasan yang sama.
Inilah fenomena yang membuat politik Timur Tengah semakin berbahaya. Ketika setiap pihak merasa serangannya merupakan tindakan pencegahan, sementara serangan pihak lain dianggap sebagai agresi, maka batas antara pertahanan diri, pembalasan dan agresi preventif menjadi semakin kabur. Serangan Abu al-Duhur dan eskalasi Houthi-Saudi memperlihatkan bagaimana logika tersebut terus membentuk politik keamanan kawasan.
About Admin2
Blog ini dibuat oleh Ketua PMPS periode ketiga secara pribadi untuk silaturrahmi. Usai pergantian kepengurusan,blog dipertahankan sebagai media bagi mempererat dan menyimpan memori yang baik.






0 comments:
Post a Comment